Hak Perempuan dalam Barat VS Islam*

July 12, 2012 | By | Reply More

Oleh: Khalid Baig

ThisisGender.Com – Kenyataannya memang, terdapat begitu banyak fragmen dalam sejarah Barat yang diprotes keras oleh perempuan. Misalkan saja, hingga akhir tahun 1860-an, seorang wanita Inggris yang telah menikah tidak diakui sebagai seorang individu di hadapan hukum.

(وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَ‌ٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَ‌ٰلِكَ لَءَايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ [٣٠:٢١

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
(Ar-Rum, 30:21)

“Terpujilah Tuhan, Raja Alam Semesta bahwa Engkau tidak menciptakanku sebagai seorang wanita-” Jewish Man’s Prayer

“Apa perbedaannya ia sebagai istri atau seorang ibu, tetap saja dialah Hawa Si Penggoda yang harus kita waspadai dalam setiap wanita.”-St. Augustine

Perempuan Islam dalam Pandangan Barat

Salah satu di antara topik-topik favorit yang digelontorkan media Barat untuk menunjukkan perlakuan Islam yang tidak disukai terhadap perempuan adalah situasi para perempuan Arab Saudi yang tidak diizinkan untuk mengemudikan kendaraan. Setiap kali disodorkan fakta tersebut, Muslim yang merasa terpojok segera menunjukkan fakta bahwa di belahan negeri Muslim lain, para perempuan tetap diperkenankan untuk mengemudi.

Di banyak negeri muslim lain, perempuan memang diizinkan mengemudi, dan perkara pelarangan wanita untuk mengemudi di Arab Saudi masih menjadi perdebatan, apakah hal tersebut merupakan kebijakan yang baik atau buruk. Bahkan terdapat sejumlah indikasi bahwa pemerintah Arab Saudi akan mempertimbangkan untuk mengubah kebijakan ini 180 derajat. Hanya saja, para penyanggah itu melewatkan isu utamanya. Apakah mengemudi merupakan suatu hak atau sebatas kewenangan saja? Hak-hak tidak dapat diambil dari diri seseorang, akan tetapi kewenangan merupakan sesuatu yang dianugrahkan atau ditolak untuk diberikan oleh otoritas di manapun. Sebelum menyalahkan pihak yang merampas hak orang lain, yang pertama kali harus dilakukan adalah memastikan bahwa hal yang dituntut tadi adalah benar-benar merupakan sebuah hak.

Untuk mengetahui bahwa di seluruh dunia ini mengemudi merupakan sebuah kewenangan, seseorang tidak perlu melakukan riset lebih jauh dari sekedar mengingat Surat Izin Mengemudi (SIM) yang dimilikinya. Seseorang tidak membutuhkan izin apapun untuk menikmati haknya, akan tetapi tidak demikian dengan kewenangan izin dari otoritas yang dibutuhkan untuk mendapatkannya. Di manapun, kewenangan ini dapat diberikan atau dicabut oleh lembaga negara sesuai dengan kapasitasnya.

Contohnya saja di Amerika Serikat, SIM seseorang dapat dicabut bukan karena kesalahan yang bersangkutan. Misalnya, saat ada orang lain yang menabraknya sementara dia tidak menggunakan asuransi kecelakaan. Aturan ini menghukum seseorang bukan karena kesalahannya, akan tetapi hal ini tidak dapat ditentang karena mengemudi bukanlah sebuah hak. Hal itu sebatas kewenangan saja. Dengan ini, kasus ditutup.

Hak Perempuan dalam Barat

Pertukaran menekankan kesulitan untuk mendiskusikan isu terkait perempuan secara objektif pada atmosfer saat ini sangat dituntut, yang diproduksi sebagian besar oleh mesin media yang sangat kuat. Dan sebagaimana yang telah diduga, dapat dikatakan tak ada isu “standar emas” bagi seorang perempuan di tengah-tengah masyarakat dikembangkan oleh Barat. Setiap orang pada saat ini tidak dapat menyanggahnya. Sejarah perjuangan wanita dan pencapaian kejayaan Barat telah menjadi cahaya pemandu bagi seluruh manusia.

Kenyataannya memang terdapat begitu banyak fragmen dalam sejarah Barat yang diprotes keras oleh perempuan. Sampai akhir tahun 1860-an, seorang wanita Inggris yang telah menikah tidak diakui sebagai seorang individu di hadapan hukum. Dalam pernikahan, dia memasuki kondisi yang disebut sebagai “converture,” dengan kata lain ia menjadi hak milik suaminya. Nama belakangnya diubah sebagai tanda kepemilikan yang baru, bahkan praktik ini masih berlangsung hingga kini. Dia tidak berhak memiliki properti, membuat kontrak/kesepakatan/ wasiat, atau hak asuh atas anak-anaknya.

Undang-undang Inggris tahun 1632 mendeklarasikan bahwa: Segala yang dimiliki seorang suami adalah kepunyaannya, sementara apa yang dimiliki istrinya adalah kepunyaan suaminya.” Lebih parah lagi, seorang istri bahkan tidak berhak untuk memutuskan ikatan pernikahan yang tidak membahagiakannya. Sampai tahun 1857, perceraian hanya bisa dilakukan melalui dokumen persetujuan dari parlemen.

Status wanita sebagai manusia kelas dua diyakini secara luas: “[Pria] merupakan gambaran dan kejayaan Tuhan, tapi wanita merupakan kejayaan bagi pria”. (I Cor. 11:7). Bahkan tidak seorang pemimpin pun yang dihormati di dunia Barat mulai dari abad ke-15 hingga abad ke-18 yang menentang ide ini. Inilah perkataan seorang reformis Martin Luther: “Jika mereka kelelahan atau bahkan mati, hal itu tidak menjadi masalah. Biarkan mereka mati kala melahirkan, untuk itulah mengapa mereka ada.“

Karya Mary Wollstonecroft (1792) dan John Stuart Mill (1869) ditunjukkan sebagai suara-suara protes yang pertama. Tapi sebenarnya, orang-orang kontroversial ini ditolak dan diabaikan pada masanya. (Pemikiran) keduanya baru diketemukan kembali pada paruh kedua abad ke-20 sebagai justifikasi atas sejumlah perkembangan saat itu.

Situasi baru mulai berubah pada abad ke-19, bukan berlandaskan argumentasi moral, akan tetapi akibat pengaruh revolusi industri. Gilasan revolusi industri menghancurkan perekonomian berbasis keterampilan dan kerajinan tangan, kemudian memaksa para pekerja untuk beralih untuk bekerja secara massal sebagai buruh kasar pada pabrik-pabrik di kota besar. Mereka meminta jaminan keluarga sehingga seorang pendapatan laki-laki cukup untuk membiayai keluarganya. Tapi sia-sia saja. Para kapitalis lebih suka seluruh keluarga ikut bekerja jika mereka ingin makan. Tidak ada pilihan lain kecuali mengirim wanita (dan juga anak-anak) ke pabrik untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kemudian, pembukaan pekerjaan perkantoran membutuhkan jutaan wanita lainnya untuk keluar dari rumah dan mengisi posisi sebagai gadis penjual (salesgirl), pengetik, sekretaris, atau pelayan. Proses tersebut mendapatkan tujuan moralnya melalui ungkapan “gerakan feminis”. Perkembangannya ditandai dengan seberapa banyak wanita yang berhasil ditarik keluar dari rumah mereka. Beban sosial yang disebabkan revolusi industri kemudian dilabeli sebagai emansipasi wanita. Menurut logikanya yang tidak masuk akal, jika seorang wanita menyajikan makanan untuk suami dan anak-anaknya, maka hal itu disebut perbudakan; akan tetapi, jika ia melakukan hal yang persis sama pada seseorng yang asing di restoran atau di dalam pesawat, misalnya, maka hal tersebut dianggap sebagai emansipasi!

Perlakuan Barat Terhadap Perempuan

Para filsuf Yunani mendiskusikan apakah perempuan memiliki jiwa atau tidak. Kemudian peradaban Barat menjawab pertanyaan ini dengan: Perempuan hanyalah tubuh semata-mata. Itulah alasan mengapa kita melihat gambar perempuan nyaris telanjang atau bahkan telanjang pada setiap ruang yang memungkinkan setiap kali Barat membanggakan dirinya dalam perkara kemajuan atas para perempuan.

Sebuah laporan tentang pornografi di internet dari Los Angeles menekankan penurunan moral tak berujung yang diciptakan oleh sistem nilai ini. Ketelanjangan mungkin saja menurunkan harkat, begitu katanya, akan tetapi sisi positifnya adalah “internet telah memungkinkan beberapa wanita ini menjadi entrepreuneurs dengan cara memasarkan aset fisik mereka sendiri.”

Kerusakan rumah tangga merupakan akibat langsung dari “kemajuan” ini. pada tahun 1994, sebanyak 1,2 juta perceraian terjadi di Amerika Serikat. Para ahli memprediksi bahwa setengah dari seluruh perkawinan baru akan berakhir dengan perceraian. Sebuah sistem yang tidak adil hanyalah mengubah bentuk-bentuk eksploitasi. Mereka tak dapat memperbaiki maalah-masalah di dalam rumah. Karena itulah mereka “membebaskan” para wanita dari rumah.

Hak dan Perlakuan Islam  Terhadap Perempuan

Di sisi lain, Islam memberinya hak-hak yang dianugerahkan langsung oleh Tuhan tanpa memaksa dia untuk keluar dari rumahnya. Seorang perempuan dalam islam memiliki hak kepemilikan, juga warisan. Ia pun memiliki hak-hak dalam pernikahannya sebagaimana suaminya. Jauh dari ketidakdewasaannya yang digambarkan oleh Barat, ia bertanggungjawab atas manajemen yang efektif di rumahnya dan membesarkan anak-anaknya. Hal itu merupakan suatu pekerjaan yang sangat menantang.

Surga terletak di kakinya. Kebaikan seorang suami dinilai dari perlakuannya yang baik pada istrinya. Untuk membesarkan seorang anak perempuan dengan penuh kasih sayang merupakan jaminan bagi ayahnya agar terhindar dari api neraka. Nah, sementara model feminis bergantung pada friksi, relasi yang dibangun dalam Islam merupakan relasi yang berlandaskan pada cinta dan penghormatan, serta memandu pada kedamaian dan keharmonisan. Inilah emas yang sesungguhnya. Mengapa ada saja yang mau menukarnya dengan serpihan logam berkilau yang tak berharga?.

Penulis adalah seorang Sarjana islam yang berprofesi sebagai insinyur, ia juga editor jurnal online al-Balagh. Ia telah menulis tentang isu-isu Islam sejak 1986 yang juga termasuk tulisannya untuk jurnal Inggris “International Impact” di mana ia menulis kolom bernama “First Thing First“.

*Artikel asli berjudul “Emas dan Logam Berkilau”, http://islamicvoice.com/February2007/WomensWorld/.

Red : Rira Nurmaida, Sarah Mantovani

Telah dibaca 1822 pengunjung.

Incoming search terms:

Tags: , , ,

Category: Fikrah

Leave a Reply