Nabi yang Penyayang

0 2971

2013-04-The_Best_Person_on_earth_by_vet_elianoor

oleh : Dr. Dinar Dewi Kania (Peneliti INSISTS & CGS)

Sejak dahulu, Barat menggambarkan sosok Nabi Muhammad Muhammad saw sebagai laki-laki yang didominasi oleh ambisi serta hawa nafsu terhadap kekuasaan dan wanita. Ia dituduh menarik orang -orang masuk Islam dengan memotivasi manusia untuk menurutkan nafsu terendah mereka. Potret fiktif Mahound (begitu orang Barat memanggil Nabi Muhammad) dalam buku the Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) yang ditulis oleh Salman Rusdie, menurut Karen Amstrong, menyuarakan kembali fantasi-fantasi Barat tersebut. (Sang Nabi, 2001 : 9 – 10). Begitu pula fenomena pelecehahan terhadap Nabi Muhammad saw dalam film dan kartun-kartun yang banyak bermunculan akhir-akhir ini, merupakan propaganda kaum funadamentalis Barat yang ingin mencitrakan Islam sebagai agama ‘penjajah’ perempuan.

Mereka yang tidak mengenal sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw dari sumber yang otoritatif, mungkin membayangkan kehidupan pribadi beliau dipenuhi dengan kenikmatan dan kesenangan badani layaknya raja dan para kaisar. Namun kenyataannya, menurut Muhammad al-Ghazaliy, kehidupan Nabi Muhammad saw bersama para istrinya merupakan kehidupan yang keras dan jauh dari ambisi serta nafsu duniawi. Nabi Muhammad saw adalah seorang yang mengarahkan perhatian seluruh manusia epada idealisme tertinggi dan kepada sesuatu yang berada di sisi Allah swt. (Fiqhus Sirah , tt : 733). Nabi Muhammad bersabda , “Kubangan air surga jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Berjuang di jalan Allah, di pagi hari atau di malam hari, lebih baik dari pada dunia dan seisinya. (HR Bukhari)

Rosulullah adalah cermin pribadi yang sangat menghargai perempuan dengan adab Islaminya. Mahmud Al –Mishri mengatakan, mustahil untuk mendapatkan teladan suami yang setara sepanjang jaman karena meskipun Nabi Muhammad saw sangat sibuk dengan ibadah dan mengurusi umatnya, namun beliau tetap tampil sebagai suami ideal yang siap membantu istrinya dalam berbagai urusan rumah tangga (35 Sirah Shahabiyah, 2012 : 119). Aisyah ra pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad saw di dalam rumah. Ia menjawab, “ Ia membantu pekerjaan istrinya sampai mendengar adzan, beliau baru keluar.” (HR Bukhari). Suatu perilaku yang sangat jarang ditemui dalam diri seorang laki-laki terlebih mereka yang memiliki kekuatan dan kekuasaan.

Selain itu, Nabi Muhammad juga terkenal dengan sifatnya yang lembut dan penyayang. Ia tidak pernah mengafirmasi kekerasan terhadap perempuan. Meskipun ada hadits yang membolehkan suami memukul istri dengan pukulan yang tidak melukai apabila sang istri terbukti melakukan kejahatan, namun Rasullullah selama hidupnya tidak pernah memukul siapapun kecuali dalam perang. Aisyah ra memberikan kesaksiannya, “Nabi Muhammad tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya. Beliau tidak pernah memukul istri atau pelayan, kecuali memukul ketika sedang berjihad di jalan Allah. Beliau juga tidak pernah membalas dendam kepada orang yang menyakitinya, kecuali jika aturan Allah dilanggar. Saat itulah beliau membalasnya karena Allah ‘Azza wa Jalla (HR Muslim) .

Ibnu Qayyim al Jauziah juga menegaskan kelembutan pribadi Nabi Muhammad saw. Menurutnya, Nabi Muhammad bahkan tidak pernah membuat sang istri terkejut ketika masuk ke dalam kamar. Beliau masuk sambil mengucapkan salam dengan lembut agar sang istri tahu bahwa yang masuk bukan orang lain. (Zadul Ma’ad , Jilid 2, 1998 : 381 ). Ayat-ayat Al-Qur’an dengan jelas memerintahkan agar kaum laki-laki memperlakukan perempuan dengan cara yang baik. Sehingga apabila terjadi kasus dimana seorang muslim melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya, hal tersebut haruslah dimaknai bahwa laki-laki tersebut berbuat zalim karena lemahnya iman dan kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam. Namun yang terjadi saat ini, ajaran Islam justru dianggap sebagai sumber penindasan terhadap kaum perempuan dan otoritas ulama kemudian dituduh sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam melanggengkan deskriminasi tersebut. Sayangnya, banyak diantara umat Islam yang terpengaruh propaganda semacam ini dan kemudian alergi terhadap agama dan otoritas agama.

Padahal, banyak sekali hadits dan riwayat yang mengungkapkan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad saw dalam kehidupan berumah tangga. Beliau suka berhias (berpenampilan baik) untuk istri-istrinya, mendoakan mereka, menjadi pemimpin dan pembimbing dalam ibadah dan ilmu. Nabi Muhammad saw sangat besar cintanya terhadap anak -anak dan sering bermain-main dengan putri-putrinya maupun cucu-cucunya. Adab Nabi Muhammad saw tersebut merupakan cerminan akhlak qurani . Dalam Islam, suami diberikan hak sebagai pemimpin dalam Rumah Tangga bukan untuk menindas dan mengeksploitasi kaum perempuan, namun untuk menjadikan anak dan istri mereka berada dalam perlindungan dan kasih sayang. Hak tersebut terikat pada sebuah kewajiban yang tidak ringan. Kelak laki-laki harus mempertanggungjawabkan amanah kepemimpinan itu dihadapan Allah swt. Nabi Muhammad saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah”. (HR Muslim)

Bagaimanapun gencarnya propaganda pihak-pihak yang ingin menghancuran Islam dan kredibilitas Nabi Muhammad saw, namun sejarah telah mencatat dengan tinta emas kemuliaan akhlak beliau sebagai sosok teladan sepanjang jaman. Belum pernah ada pemimpin bangsa di dunia ini yang terbukti dengan tulus memberi penghormatan terhadap kaum perempuan sebagaimana Nabi Muhammad saw memuliakan istri, anak perempuan, sahabat dan umat manusia. Pernah tercatat dalam lembar sejarah bagaimana seorang kaisar Romawi bernama Kaisar Konstantin yang memerintah di abad keempat Masehi, mengeksekusi mati istrinya dengan merebusnya hidup-hidup sebagaimana yang dilakukan Firaun di Mesir. Tidak hanya itu, Sang Kaisar juga diduga telah membunuh anak kandungnya sendiri karena perebutan kekuasaan. (Grace Walker , Women Are Defective Males, 2010 : 111). Hal yang sama juga terjadi di belahan dunia Timur. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam tradisi kerajaan di India sebelum abad ke 19, apabila seorang raja meninggal, maka para istri raja tersebut harus turut bersama suaminya dan membunuh diri mereka sendiri.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kaum muslim mengambil hikmah dari kisah hidup Nabi Muhammad saw yang luar biasa ini. Mengambil hikmah harus dimulai dengan membaca dan mempelajari perjalanan hidup beliau melalui sumber-sumber yang otoritatif. Hancurnya nilai-nilai keluarga, eksploitasi perempuan dan anak yang terus meningkat, merupakan konsekuensi bagi dunia yang telah meninggalkan ajaran mulia para Rasul Allah. Bagi kaum perempuan, keteladanan Nabi Muhammad saw merupakan bukti bahwa Islam telah menjamin hak-hak perempuan dan anak-anak di dalam keluarga maupun dalam lingkup masyarakat dan negara. Islam telah mengatur hubungan laki-laki dan perempuan sesuai dengan fitrahnya berasaskan keadilan. Keadilan dalam Islam tentunya tidak selalu bermakna ‘setara’ sehingga para muslimah harus kritis terhadap gerakan pembebasan perempuan (Feminisme) yang menuntut kesetaraan di segala bidang dengan kaum pria melalui konsep “kesetaraan gender” yang diusungnya. Pada kenyataannya, gerakan pembebasan perempuan tidak benar-benar memperjuangan hak asasi perempuan namun hanya memperjuangkan kepentingan sekelompok orang yang ingin menjadikan kaum perempuan bebas dari nilai-nilai moral dan agama sebagaimana yang terjadi di dunia Barat.

Sedangkan bagi kaum pria, keteladan Nabi Muhammad saw tersebut dapat menjadi sumber motivasi untuk terus meningkatkan kualitas hubungan pribadinya dengan keluarga di tengah kesibukannya. Dalam Islam, keimanan dan ketakwaan seorang pria tercermin dari perilakunya terhadap sang istri. Nabi Muhammad saw bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi). Semoga kita dapat menjadi saksi, bangkitnya kembali sebuah peradaban agung, karena keteguhan dan kesungguhan kaum laki-laki memimpin keluarganya, sebagaimana teladan Sang Nabi.

Category: SejarahTags:
No Response

Tinggalkan pesan