Home Fikrah Ibu, “the Invisible Hero”

Ibu, “the Invisible Hero”

2861
0
SHARE
Ibu, “the Invisible Hero”
Ibu, “the Invisible Hero”
Ibu, “the Invisible Hero”
Ibu, “the Invisible Hero”

Oleh: Sakinah Fithriyah

Seorang ibu memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk serta mengarahkan sebuah keluarga untuk mencapai keberhasilan rumah tangganya. Kesuksesan suami dalam karir dan pekerjaannya tidak terlepas dari peran istri yang selalu mendukung, menyertai dan mendoakan suaminya. Begitu pula kesuksesan seorang anak tidak akan lepas dari bagaimana dahulu ibunya mendidiknya.

Peran ibu sebagai madarasatul ula atau sekolah pertama bagi penanaman akidah pada diri anak-anaknya, akan meletakkan nilai-nilai dasar yang terus melekat pada diri sang anak dan mempengaruhi setiap pilihan serta cara pandangnya terhadap kehidupan yang dijalaninya. Ibu juga merupakan madrasatul adabiyah atau sekolah adab bagi pembentukkan akhlak dan pribadi anak-anaknya (ta’dib). Adab tidak didapat melalui sekolah formal maupun kurikulum pelajaran. Adab dibentuk melalui didikan orang tua kepada anak-anaknya serta kedisiplinan  sang anak untuk menempatkan diri dalam berbagai tempat dan kondisi.Tanpa keikhlasan, kemapanan ilmu, fokus serta kesabaran yang tinggi, tidak mungkin seorang Ibu mampu melaksanakan perannya ini dengan sempurna.

Perjuangan seorang ibu dari sejak mengandung, melahirkan dan menyusui yang diabadikan dalam al-Qur’an Surah al-Ahqaf ayat 15 yang artinya “….ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan..”  serta membesarkan dan mendidik anak-anaknya agar menjadi insan yang sepenuhnya menjadikan kehidupan mereka semata-mata hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala adalah perjuangan yang begitu berat dan karenanya menjadikan sosok ibu begitu dimuliakan dalam Islam sehingga mendurhakainya adalah termasuk perbuatan yang haram “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah). Sangat wajar apabila Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallam sampai menyuruh berbakti kepada ibu tiga kali lebih banyak daripada ayah.

Menjadi Ibu Siap untuk Tidak Populer

Berbeda dengan profesi lainnya, pekerjaan seorang Ibu tidak dihiasi oleh popularitas dan materi yang berlimpah. Jika seorang wanita karir atau pebisnis yang berprestasi dalam pekerjaannya akan mendapatkan penghargaan dalam bentuk materi maupun sanjung puji, sedangkan seorang Ibu yang karena Allah mampu bersabar demi mendahulukan kepentingan keluarganya di atas kepentingannya sendiri, tidak serta merta memperoleh pujian dari orang lain maupun penghargaan berupa materi. Ini karena apa yang dilakukannya tidak selalu bisa ditangkap oleh mata-mata manusia, tetapi sejatinya itu semua tidak akan luput dari perhitungan dan balasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, apa yang diperjuangkannya bukan berorientasi kepada keberhasilan materi semata, melainkan melalui didikannya lah ia berharap tercetaknya anak sholeh dan sholehah yang tercermin melalui kecemerlangan pribadi dengan tegaknya akhlak mulia dalam diri anak-anaknya.

Orang-orang besar yang berhasil meninggalkan jejak sejarah sehingga namanya tetap dikenang dan diabadikan sepanjang zaman tidak lain adalah ‘buah’ dari didikan seorang Ibu yang hebat. Sayyidatuna Fatimah az-Zhara radiyallahu ‘anha sebagai salah satu wanita yang dijanjikan Surga, lahir dari rahim wanita yang memilih melepaskan karir dan bisnisnya untuk fokus mengurus dan mendidik anak-anaknya serta menyertai perjuangan suaminya tercinta dengan jiwa, raga, dan seluruh hartanya. Ibunya merupakan salah seorang dari ummahatul mu’minin yang juga dijamin Surga, ialah Sayyidatuna Khadijah radiyallahu ‘anha, isteri Rasulullah salallahu ‘alayhi wasallam yang paling dicinta.

Pendidikan Berbasis Iman dan Taqwa

Mendidik dan membesarkan anak bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan tingkat kesabaran serta keyakinan yang tinggi. Tanpa didasari keikhlasan dan pemahaman ilmu yang baik, seorang ibu akan mudah terbawa oleh emosi dan perasaannya. Hari ini banyak ditemukan sosok ibu yang salah mengartikan makna kasih sayang dan perhatian, bagi mereka bentuk perhatian kepada anaknya adalah dengan mengabulkan segala yang diminta anaknya tanpa melihat kebutuhan, manfaat, serta dampak yang akan ditimbulkan darinya. Sedangkan kasih sayang sering kali diidentikkan berupa pemberian materi dan pembiaran dikala sang anak melakukan hal yang sudah jelas-jelas melanggar perintah agama dengan alasan kasihan kepadanya.

Dalam pandangan Islam, kasih sayang yang dibenarkan adalah ketika seorang ibu berusaha untuk selalu melindungi dan mengarahkan anak-anaknya agar mencapai keselamatan kehidupan di dunia dan akhirat. Sebagaimana yang diperintah Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia Perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Membiarkan anak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama bukanlah wujud kasih sayang atau kasihan, melainkan malah berpotensi menjerumuskan anak itu ke dalam lembah kesengsaraan.

Seorang Ibu yang berharap keluarganya memperoleh keberhasilan hakiki dan meraih kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat nanti, tidak saja memiliki visi yang amat jauh yang membuatnya seakan mampu melihat hasil dari kesabarannya berpuluh tahun kedepan, tetapi juga meyakini akan keMaha Adilan Rabbnya. Baginya, biarlah tak seorang pun tau bagaimana  beratnya mengorbankan segala keinginannya demi memprioritaskan kepentingan keluarganya dan mengubur dalam-dalam keegoisannya demi hasil yang tidak ia rasakan saat itu. Cukuplah Allah Yang Mahatahu menjadi saksi atas semua yang dialaminya. Seorang ibu yang sejati sangat meyakini  bahwa setiap tetes keringat yang keluar dari tubuhnya, letih dan lelah yang singgah dalam hari-harinya, keluh yang tertahan dari bibirnya, serta rasa sakit kala melihat kesulitan yang melanda anak-anak dan suaminya, adalah  bekal perjalanannya menuju pintu-pintu surga yang dijanjikan Allah subhanallahu wata’ala. Wallahu a’lam bisshowab

Komentari Artikel Ini