FEMEN: Feminis Ekstrem

0
6123
Femen Stole Our Voice
Birmingham Muslim Anti Femen
FEMEN Stole Our Voice! (Birmingham Muslim Anti Femen)

…FEMEN pun terjebak dengan pemikirannya sendiri yang sangat dualis. Dengan bertelanjang dada, meneriakkan beberapa slogan, dan menyerang tokoh-tokoh masyarakat, mereka menyangka telah berbuat banyak untuk membela hak-hak kaum perempuan. Padahal, perbuatan tersebut tidak menyelesaikan permasalahan apa  pun……

Akmal Sjafril
Alumnus Magister Pendidikan Islam UIKA Bogor

FEMEN adalah  sebuah nama yang mengundang banyak perhatian belakangan ini. Banyak orang terkejut  karena aksi-aksinya yang provokatif meskipun sebenarnya gerakan ini  telah berdiri sejak 10 April 2008  di Ukraina dan telah menyebar ke beberapa negara.

Dalam laman situs resminya, FEMEN menjelaskan jati dirinya sebaga “…the scandal famous organization of topless women activists, who defend with their breast sexual and social equality in  the world. (…  organisasi yang terkenal karena skandal aktivis-aktivis perempuan yang bertelanjang dada yang dengan payudaranya mempertahankan kesetaraan seksual dan sosial di dunia).” Penjelasan ini bisa jadi membingungkan bagi sebagian orang sebab para aktivis FEMEN secara gamblang telah menyatakan bahwa aksi bertelanjang dada itu adalah identitasnya. Dengan demikian, para aktivis FEMEN haruslah bertelanjang dada dan tanpa bertelanjang dada, tidaklah bisa menyebut diri sebagai representasi FEMEN.

Dalam laman situs yang sama, FEMEN menyebut para aktivisnya sebagai “…morally and physically fit soldiers, who every day make civil actions of the high degree of difficulty and provocativity. (… para prajurit yang kuat secara moral dan fisik yang setiap harinya melakukan aksi-aksi sipil dengan tingkat kesulitan dan provokativitas yang tinggi).” Berbicara soal provokasi, FEMEN sendiri memang secara terang-terangan menyebut ideologinya sebagai sextremism.

Dalam aksi-aksinya, para aktivis FEMEN selalu bertelanjang dada kadang bertelanjang bulat dengan menuliskan slogan-slogan di tubuhnya. Aksi-aksinya ditujukan kepada tiga kelompok, yaitu diktator, gereja (institusi agama), dan industri seks. Selain menebar gambar-gambar bertelanjang dada di internet, mereka pun menggelar aksi di depan gereja, masjid, kedutaan besar, kantor-kantor pemerintah, dan lain sebagainya. Tidak hanya menggelar demonstrasi, para aktivis FEMEN berkali-kali diciduk oleh keamanan setempat karena secara agresif mendekati, bahkan melakukan kekerasan kepada para tokoh.

Baru-baru ini, FEMEN mencanangkan tanggal 4 April 2013  sebagai Topless Jihad Day sebagai bentuk protes mereka terhadap ancaman rajam yang diberikan kepada Amina Tyler, aktivis FEMEN asal Tunisia. Sebelumnya, Amina telah menyebarluaskan fotonya yang tengah bertelanjang dada dengan tulisan “Persetan dengan Moralmu” di tubuhnya. Ancaman rajam yang konon telah diserukan oleh salah seorang pemuka  Islam  Tunisia telah mendorong Amina untuk bersembunyi demi keselamatannya. Pada 3 April 2013, mereka membakar bendera bertuliskan “Laa ilaaha illallaah, Muhammadan Rasuulullaah” di depan sebuah Masjid di Prancis sebagai bentuk protes. Pada 4  April 2013,   aksi digelar di  depan Masjid di Kiev dan Berlin. Aksi serupa juga digelar pada hari yang sama di Brussels dan Kedubes Tunisia di Paris.

Paling tidak, ada dua hal ‘unik’ yang ditawarkan oleh FEMEN ke dalam ranah pergerakan feminisme dunia. Pertama, FEMEN memperkenalkan jenis radikalisme baru dalam tren feminisme. Bukan hanya radikal dalam berpikir, FEMEN juga radikal dalam tindakan, yaitu dengan menyerang secara fisik tokoh-tokoh yang dimusuhinya. Kedua, tidak seperti beberapa gerakan feminisme yang lain, FEMEN secara tegas menentang prostitusi.

FEMEN adalah gambaran bagaimana kaum perempuan telah terjebak dalam arus liberalisme. Dalam pandangan kaum sekuler liberal, penetapan batas aurat adalah penindasan. Karena aurat perempuan dalam agama Islam lebih banyak, mereka pun berkesimpulan bahwa Islam adalah agama yang paling tidak ramah perempuan.

Para pemikir liberalis dari kalangan Islam kemudian berupaya sebisanya mengkritisi standar aurat  tersebut. Salah satunya adalah M Syahrur, seorang liberalis kelahiran Suriah yang berpendapat bahwa batasan aurat itu berangkat dari rasa malu (Daden Robi Rohman, majalah  ISLAMIA,  2012). Dengan kata lain, aurat yang harus ditutupi hanyalah bagian tubuh yang membuat seseorang merasa malu jika ia terlihat. Bagaimana dengan mereka yang rasa malunya ‘minim’? Padahal, Nabi SAW  sendiri menegaskan bahwa “Jika sudah tidak lagi merasa malu, perbuatlah semaumu.” (HR  Bukhari). Artinya, rasa malu justru merupakan salah satu parameter keimanan. Kaum feminis menganggap bahwa Islam telah mengkriminalisasi perempuan hanya karena anggota tubuhnya.

Dalam pandangan mereka, setiap perempuan memiliki hak sepenuhnya atas tubuh mereka sendiri. Feminisme sebagai anak kandung dari sekularisme dan liberalisme melupakan sepenuhnya bahwa tubuh mereka bukanlah milik mereka, melainkan milik Allah SWT.  Kaum feminis di kalangan umat Muslim pun sudah banyak melupakan hal ini. Dengan alasan ini, mereka memperjuangkan hak aborsi (sebab janin yang menempati rahim mereka pun dianggap sebagai hak milik pribadi) dan juga hak untuk membuka aurat, seperti yang kerap dilakukan oleh para pendukung FEMEN kini.

Kaum perempuan yang pemikirannya dipengaruhi oleh kaum feminis-liberalis kemudian menjadi kian terobsesi dengan tubuhnya sendiri. Bagi mereka, liberalisasi itu menjadi identik dengan membuka aurat. Mereka memaksakan pendapatnya sendiri bahwa perempuan yang berhijab itu telah tertindas meski mereka yang melakukannya justru tidak pernah merasa ditindas. Di media-media massa, tindakan para artis yang tampil  seronok kerap  disebut sebagai tindakan ‘berani’, seolah-olah apa yang dilakukannya itu telah mendobrak dominasi lelaki dan menyelesaikan permasalahan kaum perempuan.

Berbagai kontes kecantikan yang mempertontonkan aurat pun digelar. Kaum perempuan diajak untuk berlomba-lomba mendapatkan sebanyak-banyaknya dukungan dari juri dan sorak-sorai para penonton yang semuanya menyaksikan aurat mereka. Mereka yang menjuarai kontes-kontes semacam ini  pun dinyatakan sebagai ‘wanita berprestasi’.  Padahal, manfaat dari keikutsertaan dalam kontes-kontes tersebut—apalagi manfaat bagi masyarakat banyak—tidaklah jelas.

Sementara, kaum perempuan terobsesi untuk mempertunjukkan auratnya sendiri, industri  yang berhubungan dengan seks pun merajalela. Di dunia perfilman, banyak artis perempuan yang meniti karier dengan menjadi ikon seks dan  hal itu  dianggap normal-normal saja. Tentu saja, praktik pelecehan terhadap kaum perempuan tidak berkurang sebab mereka hanya dianggap sebagai alat pemuas kebutuhan seksual. Perempuan dianggap sebagai komoditas, bahkan perempuan sendiri sudah memandang tubuhnya sebagai aset semata sehingga pelacuran merebak di mana-mana. Uniknya, FEMEN mendukung pembukaan aurat, namun mengecam prostitusi, padahal keduanya sesungguhnya sangat berhubungan.

Pada akhirnya, FEMEN pun terjebak dengan pemikirannya sendiri yang sangat dualis. Dengan bertelanjang dada, meneriakkan beberapa slogan, dan menyerang tokoh-tokoh masyarakat, mereka menyangka telah berbuat banyak untuk membela hak-hak kaum perempuan. Padahal, perbuatan tersebut tidak menyelesaikan permasalahan apa  pun, mengganggu kenyamanan publik, tidak mengangkat martabat kaumnya, dan juga tidak mencerdaskan kaum perempuan. Akibatnya, FEMEN lalai mencarikan solusi dari problematika yang sesungguhnya dan lingkaran setan feminisme pun terus bergulir.

Artikel pernah dimuat di rubrik ISLAMIA Republika 18 April 2013

Komentari Artikel Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.