Refleksi Peran Istri di Balik Isra’ Mi’raj

Oleh: Rahmatul Husni*

Momentum Isra’ Mi’raj lebih sering dibahas dan dikaitkan dengan peristiwa ajaib dan fantastik, naiknya Rasulullah SAW ke langit untuk menjemput shalat. Namun di balik kejadian bersejarah itu, ada hal besar yang kadang luput diingat dan diceramahkan orang-orang, mengenai wafatnya Khadijah ra. istri tercinta Nabi Muhammad SAW. Malam 27 Rajab agaknya menjadi momen penguatan bagi Nabi SAW setelah mengalami masa-masa sulit: embargo dari kafir Quraisy, menerima kepergian dua pembela dakwahnya yang utama yaitu Abu Thalib, paman yang cukup disegani di tengah kaumnya, dan Khadijah ra istri yang begitu besar sumbangsihnya untuk kemajuan Islam. Maka Isra’ Mi’raj sejatinya sebuah ‘hiburan’ untuk Rasulullaah SAW dari Allah, agar tidak larut dalam kesedihan sepanjang tahun, yang disebut-sebut sebagai Yaumul Huzn.

Suksesnya peran kerasulan yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW tidak terlepas dari partisipasi Khadijah ra. pada awal mula kemunculan Islam di tengah-tengah bobroknya masyarakat jahiliyah. Istri yang sebelumnya merupakan ‘mitra dagang’ kaya dan terhormat, rela hidup miskin dan menderita setelah bersuamikan Muhammad SAW. Kepribadiannya memang sudah terkenal baik. Murah tangan, tidak suka menimbun harta, membina hubungan baik dengan mitra dagang. Ia banyak merekrut orang untuk terlibat dalam bisnisnya yang berjaya. Dagangannya dijual ke luar wilayah, sampai ke Syam dan Yaman. Bisa dibilang sosok Khadijah ra merupakan womenpreneur yang piawai, memiliki modal materi dan nonmateri.

Setidaknya ada tiga hal terkait peran Khadijah ra. sepanjang perjalanan dakwah yang bisa dijadikan refleksi untuk para istri masa kini. Pertama, penenang suami disaat sulit. Termaktub dalam Shirah Nabawiyah, ketika Rasulullah resah dengan keadaan masyarakat yang mengalami kemerosotan akhlak dan ketimpangan sosial, beliau menyendiri ke gua Hira. Tiba-tiba pulang dalam keadaan menggigil setelah menerima wahyu, “Zammilunii.. Zammiluni“. Sebagai perempuan, tidak mudah menerima pasangan menarik diri ke dalam ‘guanya’ dan tidak mengintervensi. Akan tetapi tanpa bertanya, Khadijah ra langsung menyelimuti Nabi. Ketika suami khawatir dan menyangsikan dirinya, ia membesarkan hati:

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Inilah peran kedua, penasehat dan teman diskusi suami. Memahami kondisi suami, dan memberi solusi lewat kecakapan berkomunikasi. Betapa banyak pernikahan saat ini akhirnya tidak mampu bertahan, sebab masalah komunikasi antar suami-istri. Khadijah ra. teladan luar biasa dalam membangun pernikahan harmonis yang makin tergerus ego masing-masing gender. Kejadian ketika Rasulullaah menerima wahyu dan respon Khadijah ra. bisa dijadikan panduan relasi laki-laki dan perempuan dalam Islam. Diam menanti saat suami menyendiri, tidak nyinyir bertanya sehingga suami merasa diinterogasi. Kemudian menyambut hangat saat suami kembali dari kontemplasinya, melontarkan kata-kata menguatkan sekalipun belum mengetahui sepenuhnya kejadian atau masalah yang telah dihadapi. Ketika mendengar hal ‘aneh’ yang dialami suaminya, Khadijah ra. mengajak suami bergegas menemui Waraqah bin Naufal, kerabatnya yang mendalami Injil dan dianggap cukup tahu seluk beluk penerimaan wahyu. Demikian potret ‘a well-educated women’ dalam Islam: memahami karakter suami, bisa diajak diskusi atas problematika yang dihadapi dan ikut mencarikan solusi yang sesuai.

Ketiga, membantu dengan harta. Sebagai seorang womenpreneur yang sukses mengelola harta jauh sebelum menikah, Khadijah ra tidak ragu menyumbangkan hartanya di jalan dakwah. Meskipun nafkah merupakan tanggung jawab suami, namun istri yang paham suaminya mengemban tugas besar sebagai figur umat, sadar diri untuk membantu bahkan rela jika hak-haknya dikurangi. Khadijah ra tidak menyedekahkan sebagian, melainkan seluruh hartanya untuk kejayaan Islam. Dunia digenggam di tangan, bukan di hatinya. Sehingga apapun kendala ekonomi tak menyurutkan langkahnya untuk tetap bersama suami. Istri begini sungguh kian langka di zaman sekarang. Dr. Najah Ahmad Azh Zhihar dalam bukunya berjudul Ya Ma’syaran Nisâ’ Rifqan bir Rijâl (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan Mencintai Suami Jangan Setengah Hati) menyatakan bahwa, “Eksploitasi kaum wanita dalam bidang ekonomi dan keluarnya wanita untuk bekerja, juga menyebabkan suatu perubahan mendasar dalam hal tatanan cara bergaul antara dirinya dan kaum lelaki. Di antara kaum wanita ada yang mampu mengatasi perubahan ini, dengan berpedoman pada pelita Rasul, sehingga ia berjalan di atas petunjuk ini, serta menautkan segala perihal dirinya pada manhaj petunjuk ini, yang memang sesuai untuk segala zaman dan semua tempat. Namun ada juga di antara kaum wanita yang tertipu gemerlap slogan-slogan peradaban yang palsu. Ia begitu terbius rakus memburu peradaban yang fatamorgana ini.”

Meski tak dipungkiri, peranan Khadijah ra yang begitu besar, relevan dengan adab suaminya yang mulia. Sebelum menikah, akhlak Nabi Muhammad SAW yang jujur dan dapat dipercaya menjadi daya tarik bagi Khadijah ra. dan sangat mendukung kesuksesan bisnisnya. Setelah Khadijah ra tiada, Rasulullaah SAW masih memuliakannya, tidak bosan-bosan memuji dan menyebutnya dalam tiap kesempatan. Hal ini memantik kecemburuan istrinya yang lain, Aisyah ra. “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Rasulullah kecuali pada Khadijah. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebutnya setiap saat. Ketika beliau memotong kambing, tak lupa beliau sisihkan dari sebagian daging tersebut untuk kerabat-kerabat Khadijah. Ketika aku katakan seakan-akan tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah. Beliau berkata, sesungguhnya dia telah tiada dan dari rahimnya aku dapat keturunan.”

Dalam riwayat lainnya Aisyah berkata, “Dulu Rasulullah SAW setiap keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’ Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.’

Kisah ini bisa dijadikan refleksi, betapa tinggi penghormatan suami pada istrinya, bahkan tetap membela saat telah tiada. Pengorbanan, keridhaan, keikhlasan dan ketaatan Khadijah ra berimbang dengan sikap suami yang memperlakukan baik istri dan keluarganya. Wafatnya Khadijah ra. merupakan musibah besar bagi Rasulullaah SAW. Kesedihan berlarut yang akhirnya terobati dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebagai pelajaran untuk kita semua bahwa seorang istri akan bisa menjalankan perannya dengan baik, jika dilengkapi oleh suami yang juga mampu memperlakukannya dengan baik. Sebagaimana permisalan Buya Hamka dalam romannya berjudul Si Sabariyah (1928), “kapal berlayar di lautan, ombak bersabung di buritan tali temali berentangan, layar terkipas kiri-kanan, yang seorang tegak di kemudi, seorang tegak di haluan. Jika keduanya sama pandai, selamat sampai ke tujuan. Jika keduanya tidak bijak atau salah seorang tak bestari, karam di tepi kapal itu, tidaklah sampai ke tujuan.”

*Peneliti The Center for Gender Studies

Childfree dalam Pandangan Syara’

Oleh: Kholili Hasib* Childfree adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang memilih untuk...

Kesetaraan Gender dan Studi Islam (Bag.2)

Oleh: Ahmad Kholili Hasib* Secara akademik, studi Islam berbasis gender dilakukan melalui metode feminis, di...

Kesetaraan Gender dan Studi Islam (Bag.1)

Oleh: Ahmad Kholili Hasib* Risalah Islam hadir dengan tidak merendahkan satu jenis kelamin. Buktinya, para...

- A word from our sponsor -

Tinggalkan pesan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.