Ummu Nidhal Farhat Khansanya Palestina

0
4537

Oleh: Sarah Mantovani

 

“Aku Ibumu! Tidak mudah bagiku melepasmu. Aku menangisimu siang dan malam. Jangan salah artikan air mataku. Itu adalah tangis seorang ibu yang akan melepas putranya untuk menikah dengan bidadari. Kau harus jalankan tugasmu dan tetaplah menyerang sampai waktunya engkau bertemu Allah”, pesan wanita paruh baya itu pada putra keduanya, Muhammad Fathi Farhat. Meski terlihat menangis namun ia tidak sedih saat ketiga putranya mati syahid, ia malah bangga.

Itulah Ummu Nidhal Farhat yang bernama asli Maryam Muhammad Yusuf Farhat. Ia lahir di Gaza tahun 1950. Tiga putranya, Nidhal Farhat, Muhammad Fathi Farhat dan Rawad Farhat gugur di medan jihad melawan penjajahan Zionis Israel. Karena itulah ia juga dikenal dengan julukan Khansa’ dari Palestina. Khansa’ adalah seorang sahabat Rasulullah SAW. dari kalangan wanita yang keempat anaknya syahid di medan jihad kemudian ia ridha terhadap kematian semua anaknya.

Muhammad Fathi Farhat, putra kedua ummu Nidhal yang masih berusia 17 tahun dan sedang menghafal Al-Qur’an itu minta izin kepada Ibunya untuk bergabung dengan Brigadir Al Qassam. Ummu Nidhal menyetujui keinginan anaknya tersebut. Kemudian ia membelikan semua perlengkapan yang diperlukan putranya termasuk sebuah senjata semiotomatis.

Pada Maret 2002, Muhammad melakukan penyerangan seorang diri ke pos militer Zionis di Gush Katif, ibukota pemerintahan, dan sebuah sekolah semi militer di bekas pemukiman Yahudi di Gaza, Atzmona. Muhammad menembaki siswa-siswa tersebut dengan senapan AK 47 dan granat tangan. Serangan itu menewaskan dua puluh orang sementara 23 orang luka-luka.

Delapan jam lamanya, ummu Nidhal Farhat menunggu kabar dari anaknya. Ia masih ingat kata-kata terakhir anaknya, “Selamat tinggal, bu…”, telepon ditutup.

“Bagaimana minta anak saya pulang hidup-hidup? Padahal janji Allah untuk mati syahid jauh lebih berharga? Saya mengangkat tangan berdoa kepada Allah, tapi malu mau minta agar anak saya selamat pulang…”,ujar Ummu Nidhal Farhat.

Ketika mendapat kabar Muhammad syahid, Ummu Nidhal keluar rumah dan membagi-bagikan manisan dan coklat kepada keluarga dan para tetangga. Sebagai tanda syukur putranya mati syahid di jalan Allah.

“Alhamdulillah… anakku syahid… anakku syahid…”, katanya menangis gembira.

ummu-nidhal-farhat

Cinta Jihad

Dalam wawancaranya dengan Dream2 TV, Ummu Nidhal bercerita bahwa Muhammad menembaki orang-orang Yahudi itu dari ruangan ke ruangan selama 22 menit sampai ia kehabisan amunisi dan akhirnya ditembak mati Zionis.

“Jika ia masih punya amunisi, tentunya ia tetap akan menyerang”, ujar Ummu Nidhal yang suaminya juga gugur di medan jihad.

Ummu Nidhal menikah dengan seorang Polisi. Ia mempunyai enam anak laki-laki dan empat anak perempuan.Tiga anak laki-lakinya tewas di medan jihad. Satu orang putranya lagi, Wissam Farhat, pernah dipenjara selama kurang lebih 11 tahun oleh Zionis. Wissam ditangkap saat berusaha meledakkan bom isytisyhadi (meledakkan diri) di sebuah pemukiman Yahudi di Beer Sheva, di daerah Gurun Negev, selatan Hebron.

Dalam buku Inside Hamas: The Untold Stories of Militants, Martyrs, and Spies sebagaimana dikutip oleh Majalah Suara Hidayatullah, disampaikan bahwa Wissam mendapat dukungan penuh dari ibunya itu untuk melakukan aksi-aksi jihad melawan Zionis.

Sementara dalam wawancara dengan Iqra TV Arab Saudi, Ummu Nidhal mengatakan orang-orang Palestina beriman kepada takdir Allah. Kalau sudah bertemu dengan ajal ia pasti akan mati biarpun ia berusaha sembunyi.

Katanya, ada perbedaan antara jenis kematian satu dengan yang lain. “Lalu kenapa kami tidak pilih saja mati sebagai syuhada?”

“Alhamdulillah”, kata Ummu Nidhal. “Allah telah pilih kami di antara semua manusia, dan telah memuliakan kami dengan jihad dan ribath membebaskan Palestina”.

“Jadi lebih baik kami yang mencari kematian sebagai syuhada sebelum maut datang sedang kami duduk di rumah. Maka semoga Allah berkenan memurnikan niat kita, menyatukan kita dalam jihad dan kesyahidan yang suci…”, pesannya.

Wasiat Terakhirnya

Ummu Nidhal berpesan, meminta agar kita semua menjaga akidah yang lurus karena itu kunci pertolongan Allah.

“Kalau kita lemah, umat ini, bangsa ini, pasti kalah…”

“Saudari-saudariku Muslimah Indonesia dan seluruh dunia, jangan anggap remeh dirimu, kalian BENTENG UMAT ini…(yang akan, red) Menjaga umat ini, menjaga bangsa ini, jangan sampai terbenam di api neraka. Atas nama ibu para syuhada dan ibu para tawanan Palestina di penjara-penjara Zionis, tugas utama kita perempuan muslimah…, Tolong sampaikan juga untuk saudari-saudariku, remaja putri, calon ibu dan seluruh Ibu di Indonesia… Walau belum bisa sampai ke sini kalian semua ada di hati kami…”, pesannya.

Kemudian ia melanjutkan, “Tolong sampaikan ini, bukan hanya untuk kalian, tapi untuk semua anak-anakku di Indonesia… tapi susah payah kalian datang karena mencintai kami, mencintai Masjidil Aqsha. Semoga Allah juga cintai kalian. Kalian tidak lahir di sini, tidak bisa berbahasa Arab, ribuan kilometer hidup dan tidak mengenal kami…, jihad kalian lebih susah daripada kami…”, lirihnya.

Sesudah wafatnya pada tanggal 17 Maret lalu, Perdana Menteri dan Wakil Ketua Parlemen Palestina mengusung jenazahnya. Ia tidak pernah mencari kehormatan dan kedudukan, tapi Allah yang memberikannya. Ummu Nidal Farhat bukan sembarang Ibu, ia adalah ibu para Syuhada, Khansanya Palestina.

 

Sumber :

Majalah Suara Hidayatullah edisi Maret 2013

Twitter Sahabat Al Aqsha @sahabatalaqsha.

Komentari Artikel Ini

Tinggalkan pesan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.