Home Suara Muslimah Bagaimana bila Seorang Ibu Bekerja?

Bagaimana bila Seorang Ibu Bekerja?

3919
1
SHARE

Oleh : Wendi Zarman*

ThisisGender.Com– Alkisah, seorang teman dosen (wanita) pernah bertanya kepada saya, apakah saya punya informasi tempat penitipan anak (TPA) yang bagus tapi dekat dengan tempat kerjanya. Lebih bagus lagi, menurutnya, kalau ongkosnya murah. Sebenarnya selama ini ia sudah punya langganan tempat penitipan anak, hanya menurutnya pelayanannya kurang bagus. Lagipula TPA di situ hanya buka sampai pukul empat sore, sedangkan ia mengharapkan TPA itu masih dapat melayani lebih dari jam empat sore karena terkadang ia baru pulang dari tempat kerjanya lewat dari jam empat sore.

Beberapa bulan sebelumnya ia mengalami keguguran anak keduanya. Kesibukan bekerja ditambah dengan kerepotannya naik turun angkot untuk mengantar jemput anaknya dari tempat kerja ke TPA lalu ke rumah, disinyalir sebagai penyebab keguguran itu. Tapi, apa hendak dikata, ia perlu uang, karena mengandalkan penghasilan dari suami masih jauh dari memadai. Fenomena ibu bekerja memang telah menjadi pemandangan biasa di zaman ini. Ada beberapa faktor penyebabnya:

Pertama, adalah semakin tingginya tingkat pendidikan (formal) wanita sekarang. Sementara itu orientasi pendidikan formal, terutama di tingkat perguruan tinggi, saat ini bisa dikatakan hanya untuk mempersiapkan agar lulusannya dapat menjadi tenaga kerja yang andal. Ketika seorang wanita telah mencapai tingkat pendidikan yang cukup tinggi, maka yang dibayangkannya setelah lulus adalah bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan. Maka dari itu, wanita-wanita karir yang berpendidikan ini bila mereka ditanya mengapa mereka bekerja sedangkan ada anak yang harus mereka urus di rumah maka mereka akan berkilah, “Untuk apa belajar tinggi-tinggi kalau nanti ujung-ujungnya hanya mengurus anak?”

Kedua, karena adanya pergeseran paradigma tentang ibu rumah tangga. Kita tahu dengan bergulirnya era keterbukaan informasi saat ini, pemikiran dari Barat begitu deras menyerbu masuk ke dalam pikiran umat Islam. Salurannya bisa bermacam-macam seperti sekolah, majalah, buku, film, radio, televisi, dan internet. Semua informasi ini datang kepada siapa pun tanpa diminta. Praktis, tidak ada seorang pun yang bisa mengelaknya, kecuali jika ia mengasingkan diri dari kehidupan normal. Satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampaknya adalah menyaringnya sendiri. Menyaring ini dapat berarti menghindar dari informasi semacam itu atau menyaringnya dengan pemahaman agama yang kokoh, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran tersebut.

Salah satu pemikiran itu adalah feminisme. Pada dasarnya, feminisme mendorong kaum wanita untuk menuntut hak dan kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki. Bagi mereka tidak ada perbedaan prinsipil (kecuali beberapa perbedaan kecil dari sisi biologis) antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, bagi mereka, membeda-bedakan peran, hak, dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan merupakan sebuah ketidakadilan yang harus dilawan.

Jadi, prinsip yang ingin mereka sebarkan adalah sama rata sama rasa. Kalau laki-laki boleh bekerja di luar rumah, mengapa wanita dilarang bekerja dan malah diwajibkan mengurus anak. Itu tidak adil namanya, diskriminatif, bias gender, dan sebagainya. Para wanita yang sudah termakan betul dengan pemikiran ini akan marah jika dirinya dilarang suaminya bekerja, karena baginya bekerja itu merupakan hak asasi wanita juga.

Ketiga, karena tuntutan ekonomi. Saat ini banyak laki-laki yang menganggur, bahkan juga para lulusan perguruan tinggi. Anehnya, ketika perguruan tinggi saling gembar-gembor bahwa lulusan mereka mudah mendapat kerja, kita menyaksikan semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran. Kalaupun bekerja, banyak di antara mereka memperoleh pekerjaan bergaji rendah yang tidak cukup untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Akhirnya, laki-laki sebagai kepala keluarga tidak mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga.

Untuk membantu suami, wanita (istri) pun akhirnya ikut bekerja. Selain itu, di samping alasan membantu suami, wanita-wanita sekarang ‘lebih tercerahkan’ sehingga banyak yang memilih menjadi wanita karir, baik paruh maupun sepenuh waktu. Pekerjaan domestik seringkali tidak lagi dianggap sebuah kemuliaan, malah ada yang menganggapnya sebagai penindasan. Akibatnya, membanjirnya wanita di dunia kerja menjadi tidak terelakkan, dan ini membuat persaingan dunia kerja menjadi semakin ketat.

Jadi, banyaknya pengangguran sebenarnya boleh jadi bukan hanya disebabkan oleh keadaan ekonomi negara yang lesu, tetapi juga karena persaingan kerja yang semakin ketat yang dulunya antara kaum pria saja, tapi kini juga diramaikan oleh kaum wanita. Padahal beberapa dekade yang lalu tidak banyak wanita yang turun bekerja. Banyak pekerjaan yang dulu merupakan pekerjaan khas laki-laki, seperti sopir, pegawai kantor, penjaga pom bensin, security, penjaga toko, pelayan restoran, kini juga digeluti oleh kaum wanita.

Kini, pemilik usaha seringkali lebih memilih wanita karena di samping lebih ulet dan teliti, mereka juga cenderung bisa menerima gaji yang kecil dibandingkan dengan pekerja pria. Akibatnya, peluang laki-laki mendapatkan pekerjaan menjadi semakin kecil, dan itu membuatnya tidak bisa menunaikan perannya sebagai kepala keluarga. Sementara itu di sisi lain, peran wanita sebagai ibu yang mendidik anak-anak juga sedikit banyak ikut terkorbankan.

Fenomena ibu bekerja inilah yang membedakan anak-anak sekarang dengan anak-anak di masa lima puluh tahun yang lalu. Dulu, anak-anak mendapat perhatian penuh dari ibunya. Sejak bangun tidur, sarapan, berangkat sekolah, pulang sekolah, makan siang, makan malam, gosok gigi, mengerjakan pekerjaan rumah, belajar membaca, dan tidur malam selalu didampingi oleh ibunya. Setiap saat sang ibu selalu bisa mengawasi perkembangan anak. Bila ada masalah pada anak, ibu bisa langsung mengetahui dan mengambil tindakan untuk mengatasinya. Bila sang anak punya masalah di sekolah, ibu selalu ada di samping mereka mendengar keluhan-keluhan mereka dan menghibur mereka kala mereka dilanda kesusahan.

Namun, kini semua itu tidak lagi sepenuhnya dapat dinikmati oleh anak-anak zaman sekarang. Anak-anak sekarang harus mampu tumbuh sendiri tanpa perhatian penuh dari ibunya. Mereka juga harus mampu mengatasi masalah mereka sendiri karena ibu tak punya waktu untuk membimbing mereka. Kalaupun ada pembantu di rumah, fungsinya bukanlah untuk mendidik, tetapi hanya mengasuh saja, seperti memandikan, memberi makan, mengajak bermain, dan mengawasi agar anak tidak melakukan tindakan yang berbahaya.

Secara nurani, seorang ibu yang bekerja tidak mungkin dapat memungkiri perasaan bersalahnya karena tidak dapat memberi perhatian penuh kepada anaknya. Apalagi bila anaknya itu masih terhitung balita. Bahkan, perasaan ini tidaklah hilang bila ibu itu adalah seorang feminis yang sangat terobsesi dengan pencapaian karir yang tinggi. Ini karena memang demikianlah fitrah seorang ibu yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Di dalam dirinya telah tertanam sifat penyayang terhadap anak.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk bekerja, seorang ibu harus bertanya kepada dirinya, apa yang hendak ia kejar dari pekerjaannya di luar rumah itu? Adakah ia harus melakukan hal ini sehingga ia harus mengabaikan hak anaknya untuk mendapat perhatian dari ibunya. Sekiranya ia harus bekerja, apakah ia masih mampu memenuhi hak-hak anaknya? Sang ibu harus bisa memberi penilaian yang adil dan objektif terhadap masalah ini dari sudut pandang agama, serta kedudukannya di dalam keluarga.

Bila memang kondisi ekonomi atau pertimbangan rasional lain memaksanya melakukan hal itu, maka pilihannya untuk bekerja dapatlah dimaklumi. Demikian juga jika di pundaknya terdapat suatu beban fardhu kifayah yang harus ditunaikan, yaitu ketika harus ada kaum wanita yang mengambil peran itu, seperti menjadi dokter bagi kaum wanita atau menjadi guru, maka keputusan untuk bekerja itu dapatlah diterima. Namun, ia tidak boleh menilai hal ini karena dorongan egonya yang terjangkiti sindrom “aktualisasi diri ala feminis” yang menganggap bahwa ia punya hak untuk mengerjakan kegiatan apa pun yang sesuai dengan minat dan keinginannya.

Seorang ibu hendaknya memahami apa yang telah diamanatkan Allah kepadanya. Ia harus berupaya menunaikan amanat itu bila menginginkan kemuliaan di sisi Allah. Bila bekerja adalah suatu pilihan yang harus diambil, maka sebaiknya ia mencari pekerjaan yang membuatnya masih bisa memberi perhatian cukup terhadap perkembangan anaknya. Sebaiknya ia menghindari pekerjaan yang membuatnya secara rutin berada di luar rumah sepanjang hari. Pilihlah pekerjaan yang memberi keleluasaan dalam mengatur waktu, misalnya, guru les atau guru sekolah, penulis, atau pengurus biro konsultan. Selain itu, mengapa tidak mencoba membuka usaha di rumah? Perkembangan teknologi saat ini, khususnya teknologi informasi, telah memungkinkan berkembangnya berbagai pekerjaan atau usaha yang dapat dilakukan dari rumah. Ini merupakan sebuah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh setiap ibu yang ingin mendapat penghasilan tambahan. Dengan cara demikian seorang ibu dapat menyalurkan kreativitasnya, tanpa meninggalkan kewajibannya untuk mengurus rumah tangga.

Setiap wanita hendaknya menyadari ketika ia menikah dan dikaruniai anak, maka sejak itu ia telah dibebankan suatu amanat yang harus ia tunaikan. Tidaklah bijak membandingkan dirinya dengan suami atau laki-laki yang dapat lebih leluasa beraktivitas di luar rumah. Allah telah menciptakan hamba-hambanya dengan tempatnya masing-masing. Tidak seorang pun dapat menafikan kenyataan bahwa pria dan wanita dikaruniakan potensi yang berbeda oleh Allah SWT, dan perbedaan ini kemudian menumbuhkan peran dan tanggung jawab yang berbeda pula antara pria dan wanita.

…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang

paling taqwa di antara kamu. (QS. al-Hujurat [49] : 13)

Jadi, ini sama sekali bukan masalah siapa yang lebih tinggi kemuliaannya antara pria dan wanita, sebagaimana yang dituduhkan kaum feminis. Allah sendiri telah menegaskan bahwa kemuliaan itu ditentukan oleh tingkat ketakwaan, bukan dari jenis kelamin, sedangkan ketakwaan adalah buah dari ketaatan seorang manusia kepada ketentuan Allah. Sesungguhnya kaum wanita telah diberi jalan menuju keridhaan Tuhannya melalui anak-anak yang mereka lahirkan.  Menempuh jalan itu atau tidak, sepenuhnya ada di tangan mereka.

*Penulis adalah Master di bidang fisika ITB dan Kandidat Doktor Pemikiran dan Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun, Bogor dan menulis buku berjudul “Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah itu Mudah & Lebih Efektif”.

Rep: Kholili

 

Komentari Artikel Ini

1 COMMENT

  1. Jangan menyudutkan wanita kerja. Wanita di rumah juga nggak jamin anak bakal penuh perhatian. Banyak ibu-ibu yang hanya IRT malah sibuk ngrumpi, arisan-arisan, bikin acara lingkungan yang nggak urgent. Alhasil sang anak juga terlantar, terlibat kenakalan remaja, pecandu miras dsb. Coba cek yang baru saja terjadi pada final bola piala presiden, anak remaja yang ditangkap Polda Metro itu lebih banyak dari keluarga yang bagaimana…??? (Ibu bekerja atau ibu tidak bekerja…??? Nggak usah kuatir anak akan terlantar jika ibu bekerja. Susahya hanya sekitar 8 tahunan jika ibu bekerja dengan 2 orang anak, setalah itu akan merasakan nikmatnya.asal ibu tetap perhatian ke anaknya. Sepulang kerja luangkan waktu 30 menitan untuk mendampingi anak-anaknya dan mengobrol bersama suami. Wanita bekerja sebagai guru tentu berbeda dengan profesi model, jangan disamakan.Demikian juga ada pos kerja tertentu yang harus diisi wanita (Bidan, dokter kandungan, paramedis yang menangani aurat perempuan. Tidak ada dalil dalam Islam yang melarang wanita bekerja di luar rumah.
    Keuntungan lainnya wanita bekerja adalah saat emergency telah siap biaya hidup 9contoh suaminya meninggal saat masih butuh biaya)

Tinggalkan pesan