Home Suara Muslimah Qur’anic Parenting, Metode Belajar Berkeluarga Berbasis al-Qur’an

Qur’anic Parenting, Metode Belajar Berkeluarga Berbasis al-Qur’an

5651
0
SHARE

 

ThisisGender.Com-Jika kita semua ditanya, apa kitab sucinya? Kita akan jawab, Al-Qur’an. Jika ditanya, apa mukjizat terbesar Nabi kita? Akan dijawab Al-Qur’an. Jika di tanya apa fungsinya? Akan dijawab di antaranya sebagai hudan (petunjuk). Tapi sayang, sementara ini al Qur’an masih disingkirkan dari fungsinya sebagai panduan keluarga muslim. Banyak muslim yang ketika bicara tentang pola hubungan suami dan istri serta komunikasi orang tua dan anak sumbernya bukan dari al Qur’an.

Pernyataan tersebut disampaikan Ustadz Budi Ashari, Lc, pakar Parenting Nabawiyah, di Workshop Qur’anic Parenting. Workshop yang diselenggarakan UMI (Ummahatul Mu’minin Indonesia) ini bertempat di Aula Ar Rahman AQL Islamic Center Jakarta Selatan (12/7). Rencananya, kegiatan ini akan berlangsung rutin setiap satu kali dalam satu bulan. Kuliah perdana dari workshop tersebut bertema “Potret Keluarga dalam Al Qur’an”.

“Teori yang diambil bukan dari al-Qur’an. Apalagi jika bicara teknis, al Qur’an dianggap global dan tidak rinci. Sehingga hanya dijadikan stempel legalitas untuk melegalkan berbagai tips yang tak jarang malah menabrak al Qur’an sendiri. Maka saat ini banyak keluarga muslim di jurang kehancuran”, terangnya.

Beliau menjabarkan karakteristik ideal berbagai keluarga yang dikisahkan dalam al Qur’an. Dari mulai keluarga para Nabi (Nuh, Ibrahim, Muhammad, dsb) hingga keluarga manusia biasa (Luqman, Asiyah, dan Imron).

“Ada pelajaran yang bisa diambil antara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan keluarga idealnya dan Abu Lahab, yang menjadi dua sejoli perusak bersama istrinya. Ada pula kisah antara Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Keduanya adalah Rasul teladan. Keduanya dijadikan nama surat dalam al Qur’an”, jelas da’i yang kerap mengisi program acara Khalifah di salah satu stasiun TV nasional ini.

Budi Ashari menjelaskan, bahwa dari kisah keluarga nabi Ibrahim, kita bisa mengambil pelajaran bagaimana beliau menjadi kepala Rumah Tangga dan memiliki dua muara kebesaran (dua anak laki-laki: Nabi Ismail dan Nabi Ishaq).

“Semua sepakat bahwa Ibrahim adalah seorang ayah yang hebat karena tidak saja ‘melahirkan’ anak sholih, tapi dua Nabi sekaligus. Dari keduanya, lahir para Nabi berikutnya”, tandasnya.

Uniknya, al Qur’an tidak hanya menyampaikan keberhasilan para Nabi di dalam rumah tangga. Nabi Nuh, ditegur Allah dalam Surat Hud karena kegagalannya mendidik salah satu anak laki-lakinya. Teguran itu seharusnya tidak membuat kita masih terus bertahan dengan dalih kegagalan Nabi Nuh.

“Nabi Nuh saja gagal mendidik anaknya, apalagi saya? Kalau hal ini untuk menghibur diri sesaat tidak masalah. Tapi jika untuk lari dari tanggung jawab, ketahuilah bahwa Nabi Nuh saja ditegur karenanya” jelasnya.

Ada lagi yang sangat menarik, dari 114 surat dalam al Qur’an hanya ada 1 surat yang menggunakan kata KELUARGA. Surat ‘Ali Imron (Keluarga Imron) yang berkisah tentang manusia biasa dengan kualitas luar biasa.

“Padahal Imran bukanlah Nabi. Seakan ada sebuah perintah agar kita punya fokus dalam mengambil pelajaran dari keluarga biasa yang istimewa ini. Sebuah keluarga yang utuh keberhasilannya: pasangan, anak, hingga cucu. Imron memiliki putri terbaik di dunia, Maryam. Dari rahim Maryam lahir Nabi Isa. Maka untuk mempelajarinya, kita harus menelusuri kata per kata dalam ayatnya” tegasnya

Masing-masing dengan karakter keluarga yang berbeda. Kisah-kisah itu disampaikan dengan pelajaran yang berbeda. Tentu banyak hikmah berharga yang bisa dan harus digali keluarga muslim.

Beda Antara Anak Laki-Laki dan Perempuan

Pada worshop itu Budi juga menjelaskan tentang Al-Qur’an yang membahas bagaimana melahirkan anak laki-laki yang istimewa seperti Ismail dan Ishaq (anak dari Nabi Ibrohim), Yusuf (anak dari Nabi Yaqub), dan Sulaiman (anak dari Nabi Dawud). Atau pelajaran dari kegagalan mendidik anak laki-laki seperti kisah salah satu putra Nabi Nuh.

Terkait anak perempuan, ternyata secara khusus al-Qur’an menyampaikan potret keluarga yang berhasil mendidik anak perempuan. Selain keluarga Imran dengan Maryam, ada kisah lain yang dipotret. “Dalam Surat Al Qashas disebutkan kisah dua wanita sholihah yang berinteraksi dengan Musa. Sebagian ulama tafsir menyebut bahwa dua wanita itu adalah putri Nabi Syu’aib” jelas da’i yang juga penghafal ribuan hadist ini.

Beliaupun melanjutkan dengan mengkaji Surat ‘Ali Imron ayat 36, “Maka, ketika melahirkannya, dia berkata ‘Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.’ Padahal Alloh lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki-laki tidak sama dengan perempuan…”. Inilah ayat al Qur’an yang menjadi dasar pentingnya memperlakukan (termasuk mendidik) anak sesuai fitrahnya. Ada hal-hal yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, dan tidak bisa disamakan.

“Kalau laki-laki dan perempuan tidak sama, mengapa kurikulum pendidikan dari Sekolah Dasar hingga S3 sama? Karena basisnya bukan al Qur’an. Maka seharusnya ada konsep yang berbeda. Jika tidak, kita lihat bagaimana hasil pendidikan hari ini, banyak yang menyedihkan.” ungkapnya.

Budi pun menyampaikan karena perbedaan pendidikan tersebutlah, telah lahir karya ilmiah.  Tesis S2 di Universitas Yarmuk, Yordan. Ditulis oleh Lina Ahmad Muhammad Mulhim dengan judul: Ash Shifat at Tarbawiyyah lil Maratil Muslimah fil Qur’anil Karim (Pendidikan Wanita Muslimah dalam al Qur’an Al Karim).

“Dalam jenis kelamin, mereka (musuh Islam) hadirkan sosok ke-3, transgender. Bukan laki-laki dan bukan perempuan, untuk mengacaukan tatanan kehidupan. Kalau Nabi saja melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan juga sebaliknya, apalagi jika laki-laki berubah menjadi perempuan dan sebaliknya!” tegasnya kepada peserta yang mayoritas kaum hawa.

 

Tidak ada  Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an

Budi Ashari menjelaskan, kisah-kisah keluarga Nabi Ibrahim dapat dijadikan ibrah bagaimana mengelola keluarga itu dengan baik. Dalam kisah al-Qur’an, Hajar membesarkan dan mendidik Ismail. Nabi Ibrahim meninggalkan mereka di Mekkah dan atas perintah Rabbnya. Namun apa yang dipotret al-Qur’an? Do’a Ibrahim pada Allah untuk negeri yang aman dan keselamatan anak dan cucunya. Al Qur’an memotret do’a Nabi Ibrahim sebagai pelajaran sangat agung bagi konsep pendidikan keluarga.

Adakah nama Hajar dan perannya disebutkan di sana? Tidak. Lantas, apakah Hajar protes karena sebagai istri dan wanita diperlakukan tidak setara dan adil? Juga tidak. “Ini bukan bentuk diskriminatif. Sejarah tidak akan menghilangkan peran Hajar dalam melahirkan, merawat, dan membesarkan Ismail seorang diri ketika ditinggal Ibrohim. Namun Allah punya maksud lain.”

Pelajaran yang bisa diambil para ayah sebagai kepala rumah tangga adalah harus serius berdo’a untuk kesholihan dan keselamatan anak-anaknya hingga kiamat. Serta tegas mendidik mereka dengan ketauhidan dan keimanan.

Jika Nabi Ibrohim sangat dominan digambarkan perannya sebagai kepala rumah tangga, ada yang menggelitik tentang kisah Nabi Muhammad SAW. Rosululloh justru digambarkan dengan cara sebaliknya. Al Qur’an banyak memotret pihak wanita; Ummahatul Mu’minin (Istri-istri beliau). Rosulpun dikaruniai anak-anak perempuan istimewa (Zainab, Ruqoyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah).

Kisah menarik dalam Surat Al Ahzab, ayat 28-34 membahas tentang istri-istri Nabi Muhammad. Tapi perhatikan bagian awal ayat, “Wahai Nabi! Katakanlah pada istrimu,…”, Alloh memanggil Nabi lebih dulu, bukan memanggil istrinya. Begitupun dalam Surat At Tahrim ayat 1, inipun membahas tentang para istri Nabi. “Wahai Nabi! Mengapa kamu mengharamkan apa yang dihalalkan Alloh bagimu? Kau ingin menyenangkan istri-istrimu?” Di sini terlihat Alloh menegur Nabi karena ingin menyenangkan istrinya dengan sesuatu yang tidak seharusnya.

“Ketika berbicara keluarga yang banyak membahas istri Nabi, tapi yang dipanggil lebih dahulu adalah Nabi. Tentu ada pelajaran di sini. Terutama agar para suami mampu menjadi pemimpin dan pendidik bagi istrinya. Sampai kisah Alloh menegur Nabi karena istrinya, ini memberi ibroh pada kita bahwa adakalanya suami berbuat salah karena istri.” Tandas penggagas konsep keluarga berbasis nubuwwah ini.

Satu jam berlalu, kemudian masuk ke sesi tanya jawab. Seorang peserta bertanya terkait peran ibu yang seolah tertutupi dalam al Qur’an dan banyak buku sejarah, apakah ini memang membuktikan al Qur’an  tidak adil? Apalagi hari ini begitu banyak perempuan yang berteriak memperjuangkan haknya untuk setara. Bahkan sampai pada upaya pengesahan RUU KKG.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Budi menyebutkan sebuah tesis S2 di Universitas Ummul Quro Mekkah. Hiwar al Aba’ ma’al Abna fil Quranil Karim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyah (Dialog antara Orangtua dan anak dalam al Qur’an al Karim dan Aplikasi Pendidikannya) karya Sarah binti Halil al Muthairi. Tesis tersebut membahas 17 tema dialog antara orangtua dan anak yang tercantum dalam 9 surat. Dialog antara ayah dengan anaknya ada 14 kali. Dialog antara ibu dan anaknya 2 kali. Dan dialog antara orangtua tanpa nama dengan anaknya ada 1 kali.

“Hal ini menunjukkan bahwa al Qur’an memotret para ayah yang lebih bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. Namun bagaimana kondisi hari ini? Sedikit ayah yang berdialog dengan anaknya. Maka, banyak anak yang kehilangan figur dan teladan. Ibrohnya: berarti para ayah harus belajar!” tegasnya.

“Dalam sejarah kejayaan Islam, peran ibu memang dalam rumah. Maka, menuju kebangkitan Islam, biarkan perannya “terbungkus” dalam rumah. Biarlah ia tidak tersebutkan dalam al Qur’an dan buku-buku sejarah. Hajar tidak tertulis dalam al Qur’an. Tapi para ahli tafsir, sejarah, dan dunia membahas kehebatannya” jelas Alumni Fakultas Hadist dan Dirosah Islamiyah di Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah Nabawiyah ini.

“Saya salah satu orang yang menolak RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender. Saya khawatir bagaimana nasib anak-anak yang ibunya berlomba-lomba mengisi 30% pos publik. Bagaimana pendidikan dan kehidupan masa depan mereka kelak? Para ibu, kembalilah ke rumah.” pungkasnya.

Rep: Nunu Karlina

Red: Kholili

Komentari Artikel Ini

Tinggalkan pesan